Sejarah Kerajaan Mataram Kuno Peninggalan Dan Masa Kejayaan

Sejarah Kerajaan Mataram Kuno

Kerajaan Mataram Kuno Sebelum mencapai puncak kejayaan dan merdeka, dulunya Indonesia dipenuhi oleh banyak kerajaan yang membawa corak serta aliran agama masing-masing. Tak heran jikalau kini banyak cerita sejarah panjang mengenai kerajaan-kerajaan yang sempat berkembang di wilayah Indonesia.

Nah, salah satu kerajaan yang memiliki sejarah panjang adalah Kerajaan Mataram Kuno. Kerajaan Mataram Kuno ini adalah sebuah kerajaan bercorak Hindu-Budha yang yang berdiri pada abad ke 8 Masehi.

Penasaran kan mengenai sejarah berdirinya Kerajaan Mataram Kuno ini hingga masa kejayaannya dulu? Simak berikut ini untuk info mengenai sejarah kerajaan tersebut selengkapnya.

Letak Kerajaan Mataram Kuno

Letak Kerajaan Mataram Kuno

https://ibnuasmara.com

Uniknya kerajaan yang terletak di Jawa Tengah ini diperintah oleh dua dinasti atau wangsa yang berbeda, yaitu Dinasti Sanjaya serta Dinasti Syailendra.

Meskipun hingga kini ibukota dari Kerajaan Mataram Kuno belum diketahui pasti, namun menurut fakta sejarah yang beredar banyak di buku sejarah ibukota dari Kerajaan Mataram Kuno ini dulunya terletak di Medang atau Medang Kamulan hingga tahun 925 Masehi.

Sejarah Kerajaan Mataram Kuno

Sejarah Kerajaan Mataram Kuno

https://hidupsimpel.com

Fakta sejarah tersebut diperkuat lagi dengan adanya temuan sebuah prasasti yang bernama Prasasti Canggal. Dimana prasasti tersebut bertuliskan kalimat “Medang I bhumi Mataram”.

Singkat cerita setelah beberapa dekade berhasil mensejahterakan seluruh kehidupan rakyatnya, kepemimpinan Kerajaan Mataram Kuno digantikan oleh Panangkaran. Menurut isi dari Prasasti Balitung mengkisahkan bahwa Panangkaran masih memiliki garis keturunan dengan Raja Sanjaya serta termasuk kedalam keluarga Syailendra.

Artikel terkait : 100+ Kumpulan Cerita Rakyat Pendek Legenda Nusantara

Setelah Raja yang memiliki gelar Syailendra Sri Maharaja Dyah Pancapana Raka I Panangkaran tersebut meninggal, Kerajaan Mataram Kuno terpecah menjadi dua bagian yaitu Mataram bercorak Hindu serta Mataram bercorak Budha.

Kedua wilayah ini memiliki kekuasaan masing-masing yang meliputi wilayah Mataram Hindu adalah Jawa Tengah bagian utara yang dipimpin oleh Dinasti Sanjaya dengan raja-rajanya antara lain seperti Panunggalan, Warak, Garung serta Pikatan.

Sedangkan Mataram Budha memiliki daerah kekuasaan meliputi wilayah Jawa Tengah bagian selatan yang dipimpin oleh Dinasti Syailendra dengan rajanya bernama Raja Indra. Meskipun sempat terpecah belah menjadi dua kubu yang saling bertolak belakang, namun perpecahan tersebut tak berlangsung lama.

Prasasti Kerajaan Mataram Kuno

Prasasti Kerajaan Mataram Kuno

https://situsbudaya.id

Dalam Prasasti Canggal bukan hanya berisi tentang letak wilayah ibukota dari Kerajaan Mataram Kuno semata, namun juga berisikan mengenai sistem pemerintahan sekaligus Raja pertama dari Kerajaan Mataram Kuno.

Menurut isi dari prasasti Canggal, Kerajaan Mataram Kuno ini dulunya dipimpin oleh seorang raja yang bernama Raja Sanna. Setelah beberapa dekade Raja Sanna memimpin Kerajaan Mataram Kuno, tak berselang lama kekuasaan tersebut digantikan oleh keponakannya yaitu Raja Sanjaya. Raja Sanjaya dipilih karena ia merupakan anak kandung dari saudara perempuannya bernama Sahana.

Artikel Terkait : Biografi Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia

Karena Raja Senna tidak memiliki keturunan yang dapat mewarisi tahta dan kekuasaannya, maka Raja Sanjayalah yang dipilih untuk menggantikan sekaligus mengemban amanat besar guna memimpin pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno.

Raja Sanjaya memang terkenal sangat bijaksana dalam memimpin. Tak heran jikalau dulu semua rakyatnya mampu hidup dengan makmur, tentram sekaligus aman. Di dalam Prasasti Canggal tersebut juga menyebutkan bahwa tanah Jawa memiliki sumber daya yang sangat kaya, terutama komoditas padi serta emasnya.

Ke populer karena ke bijaksanaannya dalam memimpin dan mampu menciptakan kehidupan yang makmur bagi rakyatnya, segala jasa-jasa Raja Sanjaya tak hanya terukir dalam Prasasti Canggal semata namun tertera juga di Prasasti Balitung.

Rakai Pikatan

Rakai Pikatan

https://www.dictio.id

Pasalnya pada tahun 850 Masehi, Rakai Pikatan yang merupakan raja dari Dinasti Sanjaya mengadakan perkawinan politik dengan seorang gadis bernama Pramodhawardhani yang merupakan keluarga dari Dinasti Syailendra. Namun sayangnya pernikahan kedua sejoli tersebut mendapatkan pertentangan keras dari Balaputradewa yang merupakan adik kandung dari Pramodhawardhani.

Singkat cerita setelah Rakai Pikatan berhasil menyingkirkan raja Balaputradewa yang melarikan diri ke Sriwijaya, akhirnya berkat perkawinan politik tersebut menyatukan kembali dua kubu yang sempat pecah hingga berhasil meluaskan daerah kekuasaannya dibawah kepemimpinan Rakai Pikatan dan Pramodhawardhani.

Artikel terkait : 17+ Bukti Peninggalan Kerajaan Sriwijaya Terlengkap, Prasasti Beserta Gambarnya

Tak hanya berhasil meluaskan daerah kekuasaannya hingga ke tanah Jawa bagian timur dan tengah semata, namun pemerintahan pasangan suami istri tersebut juga berhasil membangun sebuah candi yang bernama Candi Plaosan sekaligus beberapa candi lainnya yang memiliki corak agama Hindu dan Budha yang hingga kini keberadaan candi tersebut masih bisa dijumpai.

Setelah Raja Pikatan meninggal dunia, kepemimpinan Kerajaan Mataram Kuno selanjutnya digantikan oleh Dyah Balitung mulai dari tahun 898 Masehi hingga tahun 910 Masehi. Selanjutnya secara berturut-turut mandat kekuasaan memerintah Kerajaan Mataram Kuno di pimpin oleh Raja Daksa, Tulodong serta Wawa hingga tahun 929 Masehi.

Kehidupan Politik Kerajaan Mataram Kuno

Kehidupan Politik Kerajaan Mataram Kuno

https://ibnuasmara.com

Setelah raja Wawa lengser dan meninggal dunia, lantas Mpu Sindok lah yang diberi amanat untuk memimpin pemerintahan di Kerajaan Mataram Kuno. Mpu Sindok merupakan menantu dari Raja Wawa.

Sejak saat pemerintahan Mpu Sindok sistem pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno dialihkan ke wilayah Jawa Timur. Salah satu faktor penyebab pemindahan wilayah kekuasaan ini dikarenakan dulunya Jawa Tengah sudah mendapatkan pengaruh besar dari kerajaan Sriwijaya.

Tepatnya pada abad ke 7 Masehi hingga 9 Masehi kerajaan Sriwijaya yang dipimpin oleh Raja Balaputradewa tak lain adalah adik kandung dari Pramodhawardhani meluncurkan serangan-serangan secara bertubi-tubi ke Kerajaan Mataram Kuno.

Nah, akibat serangan-serangan yang diluncurkan oleh Kerajaan Sriwijaya tersebut Kerajaan Mataram Kuno yang mulanya berada di Jawa Tengah terdesak hingga ke wilayah timur. Terlebih hal tersebut di perkeruh dengan adanya letusan gunung berapi yang menyebabkan Kerajaan Mataram Kuno hancur.

Banyak masyarakat Mataram yang menganggap letusan gunung berapi tersebut merupakan sebuah tanda kehancuran bagi Kerajaan Mataram Kuno.

Oleh sebab itu, mereka mendesak Mpu Sindok yang memimpin Kerajaan Mataram Kuno pada saat itu untuk memindahkan kerajaannya ke tempat yang aman, karena wilayahnya tersebut sudah tidak layak. Mulai saat itu Kerajaan Mataram Kuno sudah tidak lagi terdengar kabarnya.

Setelah Kerajaan Mataram Kuno dinyatakan sudah hancur, ternyata keberadaannya memberikan dampak positif sekaligus perubahan baru terhadap masyarakat Indonesia khususnya di bidang ekonomi dan sosial.

Tak hanya mayoritas penduduk Indonesia yang merasakan dampak positif tersebut namun juga sebagian wilayah yang pada saat itu masih banyak berdiri di Indonesia seperti Kerajaan Kutai Kartanegara serta Kerajaan Majapahit.

Kedua kerajaan tersebut mengalami perubahan baru pada struktur sosial yang mampu berevolusi namun tetap progresif. Selain itu, dampak positif tersebut juga memberikan perkembangan di bidang ekonomi. Dimana yang dulunya masih menggunakan sistem barter berganti menggunakan sistem nilai tukar uang.

Menurut beberapa sumber terpercaya, dulunya kehidupan masyarakat Kerajaan Mataram Kuno mayoritas bersifat agraris. Hal ini disebabkan karena kerajaan yang terletak di Jawa Tengah ini berada di wilayah pedalaman, bukan di pesisir pantai.

Mayoritas penduduk Kerajaan Mataram Kuno pada saat itu menggantungkan hidupnya kepada hasil pertanian yang mereka tanam, bahkan tak jarang mereka juga menjualnya ke pusat kota. Para penduduk Kerajaan Mataram Kuno dulu juga sudah mulai beternak, seperti kambing, sapi, ayam, dsb.

Dulunya memang kedaan Kerajaan Mataram Kuno tepatnya pada abad ke 7 hingga 9 Masehi terbilang sangat makmur, tentram dan aman. Hal ini terbukti dengan ramainya kegiatan perdagangan baik dalam maupun luar negeri yang dilakukan oleh masyarakat mataram tempo dulu.

Fakta sejarah tersebut juga diperkuat lagi dengan adanya sumber dari Dinasti Tang yang menceritakan mengenai kebesaran kerajaan yang terletak di tanah Jawa Tersebut. Bahkan dulu beberapa tahun silam setelah Kerajaan Mataram Kuno hancur masih banyak sekali benda-benda yang terbuat dari keramik berasal dari China serta Vietnam.

Kehidupan Sosial Kerajaan Mataram Kuno

Kehidupan Sosial Kerajaan Mataram Kuno

https://www.emaze.com

Sejarah Kerajaan Mataram Kuno yang diceritakan dalam sebuah prasasti yang kini beberapa benda peninggalannya tersebut masih dapat dijumpai di beberapa situs kebudayaan di wilayah Indonesia. Selain prasasti Canggal serta prasasti Balitung, Kerajaan Mataram Kuno juga memiliki sebuah prasasti yang bernama Prasasti Warudu Kidul.

Prasasti ini menceritakan informasi mengenai sekumpulan orang-orang asing yang berdiam di Mataram. Kemungkinan besar sekelompok orang tersebut adalah saudagar yang berasal dari luar negeri. Sebab status serta pajak yang mereka bayar juga sangat berbeda dengan warga pribumi lainnya.

Meskipun tak ada sumber yang pasti yang mampu menjelaskan, namun bisa dipastikan kalau sekumpulan orang tersebut adalah imigran dari China

Kerajaan Mataram Kuno yang bercorak agama Hindu Budha ini dulunya juga sudah mengenal berdagang. Mayoritas dari penduduk Kerajaan Mataram Kuno menjual hasil pertaniannya setiap hari pasaran menurut kalender Jawa Kuno di pusat kota hingga desa-desa. Pernyataan ini juga telah dikisahkan pada prasasti Purworejo yang ditemukan pada tahun 900 Masehi.

Pasar yang dibuka sesuai dengan kalender Jawa Kuno ini biasanya digelar pada pusat kota hingga desa-desa pusat perdagangan ini selalu ramai didatangi oleh penjual dan pembeli dari berbagai desa. Barang yang dibawa oleh para penjual pun sangat beragam mulai dari beras, buah, serta kebutuhan lainnya yang dilakukan melalui transaksi barter.

Selain sektor perdagangan, pada masa Kerajaan Mataram Kuno ini dulunya juga telah mengembangkan industri rumah tangga. Seperti misalnya keranjang dari anyaman rotan, perkakas dari besi, emas, tembaga, perunggu serta beberapa hasil industri lainnya.

Umumnya desa-desa yang dipilih sebagai sektor perdagangan tersebut mulanya adalah lahan permukiman yang kosong yang kemudian dikelola oleh orang-orang yang berjasa, seperti misalnya pejabat militer atau kerabat istana.

Selain mengatur pengelolaan tanah, seseorang berjasa tersebut biasanya juga menjadi akuwu atau sejenis dengan kepala desa, senopati, atau adipati dan menteri. Tak hanya seseorang yang memiliki keturunan dengan kerajaan saja, namun wilayah lahan pemukmian tersebut juga bisa dikelola oleh kaum Brahmana atau Rahib.

Biasanya di wilayah tersebut akan dijadikan sebagai tempat tinggal atau asrama yang biasanya di sekitarnya di bangun sebuah candi atau wihara sebagai tempat beribadah.

Bagaimana apakah setelah membaca penjelasan panjang mengenai sejarah Kerajaan Mataram Kuno tersebut membuat Anda mengerti mengapa di Indonesia ini banyak sekali candi yang berdiri dengan perpaduan corak antara agama Hindu dan Budha?

Demikianlah uraian mengenai sejarah Kerajaan Mataram Kuno yang dapat Anda ambil pesan moralnya untuk dijalankan serta di teladani dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Semoga artikel ini bisa memberikan Ilmu pengetahuan sekaligus wawasan baru mengenai ragam budaya yang dulunya sempat maju dan berkembang di negara Republik Indonesia ini. Terima kasih.

Leave a Reply