Biografi Ra Kartini | Tokoh Pejuang Emansipasi Wanita Indonesia

Biografi Raden Adjeng Kartini atau yang lebih populer dengan RA Kartini ini merupakan salah satu pahlawan nasional wanita yang berjasa dalam memakmurkan serta memajukan hak-hak dasar kaum wanita yang terabaikan.

Berkat jasa-jasanya memperjuangkan kaum wanita inilah membuat biografi RA Kartini selalu tertera dan terangkum dalam buku pelajaran para pelajar di seluruh Indonesia untuk dipelajari kegigihan serta ketauladanannya dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu hal inovatif yang membuat munculnya inspirasi beliau adalah pemikiran atau pola pikir yang dimiliki oleh para perempuan Eropa. Sejak itulah RA Kartini memiliki peran dalam mempelopori kebangkitan seluruh wanita Indonesia.

Tak heran jikalau hal tersebut membuat RA Kartini menjadi seorang tokoh feminim klasik yang patut untuk dijadikan sebagai suri tauladan. Bagi kalian yang penasaran dengan biografi RA Kartini langsung saja simak selengkapnya.

Biografi RA Kartini 

Biografi RA Kartini
https://www.infobiografi.com

Berkat jasa-jasanya dalam memperjuangkan harkat, martabat, serta emansipasi para kaum wanita, kini seluruh wanita Indonesia telah mendapatkan tempat yang sejajar dengan kaum pria dalam hal dan bidang apapun, terutama dalam bidang pemerataan pendidikan serta pengakuan.

Bahkan untuk mengenang jasanya yang besar bagi kaum wanita, setiap tahun kelahirannya tepat pada tanggal 21 April selalu diperingati dengan kegiatan-kegiatan yang didominasi oleh para kaum wanita. Seperti misalnya pawai serta deretan festival lainnya.

Artikel terkait : Cerita Rakyat Pendek

Pada jaman dulu hak-hak wanita Indonesia atau wanita pribumi masih sangat rendah. Hal tersebut membuat para wanita pribumi khususnya yang berasal dari kasta rendah mengalami ketimpangan sosial dalam bidang pendidikan. Hak-hak dasarnya sebagai warga negara Indonesia bahkan dikesampingkan, terutama dalam mengenyam bangku pendidikan.

Namun berkat jasa-jasanya terhadap kaum wanita kini semua wanita pribumi bisa mengenyam manisnya bangku sekolah tanpa memandang status sosial serta kasta.

Masa Kecil RA Kartini

Masa Kecil RA Kartini
buku-otobiografi.blogspot.com

RA Kartini merupakan anak yang beruntung, pasalnya selain terlahir sebagai perempuan “berdarah biru” ia juga terlahir dari keturunan seorang bangsawan Jawa atau yang lebih populer dengan sebutan golongan priyayi yang disegani oleh semua masyarakat.

RA Kartini terlahir dari pasangan suami istri yang sudah memiliki silsilah keturunan bangsawan dahulu sebelumnya. Seperti misalnya Ayah RA Kartini yang bernama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat ini merupakan seorang patih yang kemudian diangkat menjadi Bupati Jepara setelah masa setahun RA Kartini dilahirkan didunia.

Artikel terkait : Peninggalan Kerajaan Sriwijaya

Sedangkan ibu RA Kartini bernama M.A. Ngasirah yang merupakan anak perempuan dari seorang guru agama yang paling populer di Jepara pada saat itu. Bahkan keluarga dari ibu kandung RA Kartini masih memiliki garis keturunan dari Kerajaan Majapahit.

Secara keseluruhan RA Kartini memiliki saudara berjumlah 11 orang termasuk didalamnya adalah saudara tiri. Tak heran jika kecerdasan RA Kartini tak bisa terelakan, pasalnya anak pertama dari 11 bersaudara tersebut sejak kecil telah dididik melalui pendidikan berbasis barat oleh ayahnya yang merupakan seorang Bupati Jepara.

Tak hanya kepada RA Kartini saja pendidikan berbasis barat tersebut diterapkan, namun juga kepada 11 saudaranya yang lain. Dahulu pendidikan hanya diberikan kepada anak-anak yang masih memiliki garis keturunan bangsawan, terlebih sejak RA Kartini kecil beliau selalu diberikan kebebasan kepada ayahandanya untuk mengakses sekolah demi ilmu.

Masa Pendidikan RA Kartini

Masa Pendidikan RA Kartini
https://www.wanita.me

Setelah diberi kebebasan ayahnya untuk bersekolah, RA Kartini tak mau membuang kesempatan emasnya. Beliau memilih sekolah ELS atau Europese Lagere School sebagai sekolah pertamanya.

Tak bisa sembarangan orang boleh mengenyam pendidikan di sekolah yang didirikan oleh negara asing tersebut, pasalnya di sekolah ELS ini hanya diperuntukkan bagi anak-anak yang tergolong kedalam keturunan priyayi atau orang-orang terpandang semata.

Di sekolah asing tersebut memang mayoritas diisi oleh anak laki-laki dari negara asing, namun RA Kartini tak mau goyah ia belajar banyak hal terutama bahasa Belanda.

Artikel terkait : Kerajaan Hindu Budha di Indonesia

Tetapi disaat RA Kartini masih ingin mengecap manisnya bangku pendidikan, ia harus merelakan keinginanya. Pasalnya beliau hanya diberikan kebebasan bersekolah hingga batas usia 12 tahun saja, selepas itu RA Kartini diwajibkan untuk tinggal di rumah guna menjalani masa pingit.

Hal tersebut tentunya membuat RA Kartini menjadi kecewa terhadap perlakukan sistem sosial terhadap kaum wanita yang masih banyak sekali perilaku-perilaku mendiskreditkan para perempuan di tanah Jawa.

Meskipun dalam masa pingitan yang mengharuskan dirinya untuk tidak keluar rumah, namun kegigihannya untuk menuntut kesetaraan terhadap kaum perempuan mewakili seluruh kaum perempuan peribumi di Indonesia tak pernah surut.

Beliau masih terus belajar sendiri di rumahnya bahkan ia sudah berani menuliskan sebuah surat kepada koresponden asal Belanda tentang keluh kesahnya serta keinginannya untuk membangkitkan pemberdaayan wanita nusantara.

Semenjak RA Kartini kecil ia sudah banyak ditempa dan belajar tentang bahasa Belanda, maka tak heran jikalau ia tak mengalami kesulitan tatkala mengirimkan sebuah surat ke pada koresponden Belanda dengan menggunakan bahasa Belanda.

Tak tanggung-tanggung beberapa tulisannya yang ia tujukan kepada koresponden Belanda telah berhasil beberapa kali dimuat di salah satu surat kapar uang cukup populer pada masanya bernama De Hollansche Lelie.

Masa Pernikahan RA Kartini

Masa Pernikahan RA Kartini
https://pintasilmu.com

Sejarah biografi RA Kartini tak berhenti sampai disini. Tepat pada saat usianya menginjak angka 24 tahun, beliau dijodohkan dengan seorang laki-laki yang kebetulan pada saat itu sudah mempunyai istri yang bernama K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat.

K.R.M Adipati Ario Djojo Adhaningrat adalah seorang Bupati Rembang serta birokat yang pada saat itu sudah mengetahui keinginan serta tujuan dari kegigihan RA Kartini dalam memperjuangkan kaum wanita.

Adipati Ario pun mendukung sepenuhnya keinginan serta membebaskan RA Kartini untuk membangun sebuah lembaga pendidikan atau sekolah khusus untuk wanita baik pribumi di Indonesia.

Akhirnya singkat cerita RA Kartini yang dibantu oleh suaminya berhasil membangun sebuah sekolah atau lembaga pendidikan bagi kaum perempuan yang terletak di sebelah timur pintu gerbang komplek kantor bupati Kabupaten Rembang.

Meskipun kini sudah mengalami banyak sekali renovasi dibagian-bagian tertentu, tetapi hingga kini bangunan sekolah tersebut masih tetap berdiri kokoh sebagai salah satu situs peninggalan sejarah yang dilindungi oleh pemerintah kota Rembang.

Seiring terealisasinya seluruh cita-cita RA Kartini guna menjunjung tinggi hak serta martabat kaum wanita melalui pembangunan lembaga pendidikan atau sekolah khusus bagi kaum perempuan.

Kini seiring berjalannya waktu bangunan tersebut selain dilindungi sebagai warisan kebudayaan juga telah dialih fungsikan menjadi sebuah gedung pramuka yang kerap digunakan beberapa gugus depan dalam menyelenggarakan aktifitas serta kegiatan kepramukaan.

Masa Perjuangan RA Kartini

Masa Perjuangan RA Kartini
https://silabus.org

Seiring berjalannya waktu serta terealisasikannya cita-cita dalam memperjuangkan hak serta martabat perempuan, tepat pada tanggal 17 September 1904 beliau menghembuskan nafas terakhirnya setelah empat hari melahirkan anak pertamanya.

Meskipun beliau meninggal diusia yang cukup muda yaitu 25 tahun, namun seluruh jasa serta pengorbanan beliau sudah berhasil membuat fenomena sosial yang hingga saat ini euforianya masih bisa dirasakan oleh semua orang.

Berkat jasa serta perjuangan panjangnya yang tidak mudah kini RA Kartini telah berhasil mengantarkan para kaum perempuan menjadi lebih berpendidikan sekaligus memiliki peran yang bisa di pertimbangkan.

Jasanya yang menginspirasi dalam memperjuangkan emansipasi wanita membuat seorang tokoh politik yang bernama Van Deventer dari negera Belanda ini membuat Yayasan Kartini yang awal mulanya didirikan di Semarang.

Namun seiring dengan perkembangan waktu dan zaman Yayasan RA Kartini ini sudah menyebar di beberapa kota besar lainnya seperti Yogyakarta, Cirebon Malang serta Madiun.

Keberadaan Yayasan RA Kartini ini dibangun di beberapa kota besar bukan tanpa alasan, pasalnya keberadaan yayaaan ini merupakan salah satu penghargaan kepada Raden Adjeng Kartini yang telah berhasil membuat pola pikir kaum wanita menjadi lebih modern.

Ada salah satu tokoh yang paling berjasa dalam mendokumentasikan sekaligus menerbitkan surat-surat yang ditulis RA Kartini yang pernah dikirim kepada kawan-kawannya di Eropa adalah Mr. J.H Abendanon. Mr. J.H. Abendanon tak lain dan tak bukan adalah seorang menteri kebudayaan, agama serta kerajinan Hindia-Belanda pada saat itu.

Selanjutnya seluruh surat-surat hasil tulisan tangannya yang dikirimkan untuk kawan-kawannya yang berada di Eropa tersebut dikumpulkan dan di bukukan ke dalam bahasa Melayu, yang kemudian langsung diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1922.

Berdasarkan buah pemikiran dari bahasa Belanda, akhirnya seluruh surat-surat yang dibukukan tersebut diberi judul ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’.

Hingga saat ini ungkapan tersebut telah menjadi sumber semangat bagi seluruh kaum perempuan di Indonesia.
Tak hanya Mr. J.H Abendanon saja yang terinspirasi akan surat-surat yang ditulis oleh RA Kartini untuk dibukukan.

Namun banyak sekali tokoh nasional yang terinspirasi akan pemikiran RA Kartini tentang kondisi sosial pada saat itu, terutama kondisi sosial yang dialami oleh seluruh wanita Jawa.

Menurut pemikiran RA Kartini yang dituangkan dalam sebuah surat menyatakan bahwa tradisi budaya pingit dipandang mampu menghalangi pemikiran sekaligus kemajuan pola pikir wanita Indonesia yang wajibnya harus belajar sekaligus berilmu.

Dalam memperjuangkan cita-citanya RA Kartini selalu berdasar kepada Ketuhanan, kebijaksanaan serta nasionalisme yang berselaras sehingga memunculkan cita-cita yang sangat mulia bagi kaum perempuan.

Tak heran berkat pemikirannya yang modern ada beberapa ide-ide serta cita-cita RA Kartini yang dituangkan dalam sebuah tulisan yang berhasil dimuat di beberapa surat kabar populer pada saat itu. Seperti misalnya Zelf-ontwikkeling, Zelf-onderricht, Zelf-vertrouwen, Zelf-werkzaamheid serta Solidariteit.

Hingga kini sudah banyak sekali buku yang memuat mengenai biografi RA Kartini di beberapa toko buku diseluruh wilayah Indonesia.

Tak hanya cita-cita sekaligus harapan bagi kaum wanita Jawa semata namun ada beberapa surat yang ditulis oleh RA Kartini berisikan bantuan sekaligus harapan pertolongan kepada kaum wanita-wanita cerdas di Eropa.

Menurut saksi hidup yang kebetulan sahabat dekat dari RA Kartini bernama Estella Zeehandelaar mengungkapkan bahwa RA Kartini menginginkan untuk mengadopsi pemikiran-pemikiran wanita cerdas di Eropa yang selanjutnya di terapkan di tanah Jawa.

RA Kartini ingin wanita Jawa bebas dari belenggu adat budaya yang harus dijalankan tanpa mengindahkan kepentingan pendidikan serta menggapai cita-cita.

Nah, demikianlah adalah ulasan mengenai biografi RA Kartini secara lengkap yang wajib Anda ketahui dengan seksama.

Ternyata di balik pemikiran wanita modern saat ini tersimpan sejarah panjang RA Kartini yang rela mengorbankan apapun supaya kaum wanita khususnya di tanah Jawa memiliki harkat dan martabat yang setara dengan para pria. Semoga artikel ini bermanfaat, terima kasih.

Leave a Comment